KKN Tematik Mahasiswa UNIBBA, “Citarum Harum”

Rektor (tengah), Dr. H. Nasep Rachmat, Ir., MM., MSi. (Brigjen. TNI (Purn)), Noor Utomo, Ir., MP. (kedua dari kiri), dan dosen UNIBBA melakukan kunjungan ke Bank Sampah Bersinar, Bojongsoang, Kab. Bandung

Pada hari Kamis, 29 November 2018 Mahasiswa Universitas Bale Bandung mengunjungi Bank Sampah Bersinar (BSB) yang berlamat di Bojongsoang, Kabupaten Bandung. Kegiatan kunjungan tersebut merupakan salah satu bagian persiapan KKN Tematik Tahun Ajaran 2018-2019. Mahasiswa, khususnya keluarga Fakultas Pertanian UNIBBA mendapatkan pelatihan untuk dapat memilah berbagai macam sampah dan membuatnya memiliki nilai jual tertentu.

Sampah dapat dikategorikan menjadi sampah an-organik, sampah organik, dan sampah berbahaya (limbah B3). Hingga saat ini, beberapa pengepul dan penampung utamanya hanya menerima sampah an-organik berupa limbah plastik. Limbah plastik berbentuk gelas dibersihkan dan dibuang bagian bibirnya yang keras supaya bernilai jual tinggi. Sedangkan limbah plastik berbentuk botol dipisahkan tutup botolnya.

Bagaimana dengan limbah organik ?

Untuk menangani limbah organik skala rumah tangga, perlu dibuat lubang penampungan guna mengubur limbah tersebut. Sifatnya yang mudah terurai menjadikan limbah organik cepat mengeluarkan bau yang kurang sedap. Tantangan selanjutnya yaitu kepemilikan lahan yang sempit diperkotaan, khususnya untuk warga disekitar bantaran Sungai Citarum.

Mahasiswa tengah melakukan sosialisasi pemanfaatan limbah organik melalui pot komposer, disertai dengan sosialisasi pemanfaatan limbah melalui program reuse, reduce, dan recycle.

Oleh karenanya, Keluarga Mahasiswa UNIBBA mengusulkan untuk memfasilitasi warga masyarakat dengan membuat pot komposer. Pot tersebut sama seperti pot tanaman pada umumnya, namun didalamnya terdapat satu ruangan khusus untuk menempatkan limbah organik. Limbah organik rumah tangga yang dicacah kecil-kecil selanjutnya ditempatkan dalam ruangan khusus dalam pot tersebut. Selain dapat mengatasi limbah organik secara kuantitas, sekaligus juga menyediakan unsur hara bagi tanaman dalam pot tersebut. Dengan kata lain tidak diperlukan pupuk an-organik untuk pertumbuhan tanaman dalam pot tersebut.

Mahasiswa juga diberikan seminar untuk dapat memanen air hujan supaya siap dimanfaatkan oleh masyarakat umum khususnya di lokasi-lokasi penampungan korban bencana. Air hujan dikumpulkan dalam satu penampungan air besar, untuk selanjutnya dikeluarkan dan diolah secara bertahap sesuai kebutuhan. Proses pengolahan tersebut dilakukan dengan bantuan alat penjernih. Adapun alat penjernih terdiri dari komponen penyedot air, tabung filter/penyaring (saringan berukuran mikro), dan tabung ultra violet (guna membunuh kuman dan bakteri).

Seyogyanya pembekalan yang diberikan kepada mahasiswa akan diaplikasikan kepada warga masyarakat disekitar bantaran Sungai Citarum. Hal tersebut dilakukan guna mendukung program pemerintah dalam memulihkan kondisi Sungai Citarum yang telah tercemar.

Sudah tidak terhitung kerugian yang ditimbulkan dari rusaknya ekosistem DAS Citarum. Kerusakan tersebut dimulai dari kerusakan ekosistem karena alih fungsi lahan di daerah hulu. Hal tersebut diperparah dengan pencemaran air berupa limbah pabrik dan sampah domestik dibagian tengah Sungai Citarum. Oleh karenanya diharapkan mahasiswa dapat merubah gaya hidup masyarakat disekitar Sungai Citarum untuk dapat menghargai lingkungan dengan memilah sampah dan tidak membuangnya ke sungai. (red-Pers_Faperta UNIBBA)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.